Beranda > Umum > Renungan: Inti Istighfar

Renungan: Inti Istighfar

An-Nafs merupakan fenomena kehidupan yang mengantar ar-Ruh dan al-Basyar. Lantaran itu, an-nafs memiliki kecendrungan berada pada titik yang terendah saat ia dekat dengan al-basyr dan cenderung pada tingkat tertinggi saat dekat dengan ar-ruh. Ini berarti tingkatanan-nafs dari al-basyr ke ar-ruh adalah : an-nafs al hayawaniyah, an nafs al ammarrah, an nafs al lawwammah, an nafs al mulhamah, an nafs al muthma’inah, an nafs al mardhiyyah, an nafs al qudsiyyah. An nafs al qudsiyah inilah yang dekat dengan ar-ruh al idhofi, sehingga ia menjadi suci dan selalu dinafasi dengan ar ruh al idhofi untuk senantiasa mengingat-Nya dan ruh al idhofi pun selalu dinafasi oleh ar Ruh al-Haq.

Qalb adalah Baitullah atau Ka’bah. Hati manusia bisa memuat Allah jika disiapkan untuk menyambut kedatangan-Nya, dengan cara dibersihkan dan disucikan dari sesuatu selain Allah. Karena, di dalam hati manusia terdapat citra samawi ka’bah. Citra samawi ka’bah di dalam hati manusia penuh dengan sifat-sifat Ilahi. Berbagai hakikat ruhaniah manusia mengelilingi hati tersebut, bagaikan orang-orang beriman mengelilingi Ka’bah.

Citra samawi Ka’bah ada di dalam hati manusia di dalam manusia-tempat hakikat ruhaniyah mengitari hati-itu di sebut baitul ma’mur telah bersih dari segala sesuatu selain Allah, yakni hati manusia-manusia yang telah mencapai-Nya, maka hati itu akan menjadi Baitul Haram, yaitu Rumah Suci yang hanya memuat Allah saja. Itulah hati al-Insan al-Kamil.

Di dalam diri manusia itulah tersembunyi Ruh al-Haqq (Ruh-Nya yang ditiupkan saat penciptaan manusia). Ruh al Haqq bersemayam di dalam Baitul Haram yang memuat hakikat tahta ‘arsy di dalam hati manusia. Ketersembunyia Ruh al-Haq ditabiri ghain yang menghijab kesadaran manusia. Setiap manusia, termasuk nabi dan rasul, hatinya tertabiri oleh ghain. Sedang orang kafir, hatinya ditabiri ghain dan rain.

Istighfar
Pada orang beriman, Ruh al-Haq hanya bisa terbebas dari belenggu keakuan jika ghain disingkap oleh maghfirah-Nya. Itu sebabnya, para nabi dan rasul senantiasa beristigfar. Rasulullah Saw dalam sehari beristigfar sedikitnya 70 kali sehari. Dari istigfar muncul magfirah-Nya. Magfirah muncul dari al-Ghaffar (Maha Pengampun). Al-Ghaffar berasal dari Ghafara (Yang menutupi, Yang Mengerdungi, Yang menyelubuik,Yang Menghijab). Demikianlah istigfar bagi para nabi, rasul, serta orang-orang beriman yang mengikuti “Jalan” dan “Cara” bukanlah permohonan ampun (karena nabi dan rasul adalah maksum,yakni suci dari dosa), melainkan memohon magfirah dalam arti tersingkapnya tabir ghain yang menyelubungi (ghafara) Ruh al-Haqq di dalam hatinya.

Sementara itu, tabir rain yang menyelungi hati orang kafir hanya bisa disingkap oleh hidayah-Nya. Manusia akan terhijab dari Penciptanya jika tabir ghain dan rain tidak tersingkap. Karena Ruh al-Haqq yang bersemayam di Baitul Haram yang memuat hakikat ‘arsy di dalam hatinya tetap tertutupi tabir. Dan kebebasan sempurna Ruh al-Haqq dan belenggu keakuan baru bisa dicapai jika barzakh al-a’la (barzakh tinggi) dan nafs ar-Rahman (Nafas Yang Maha Pengasih) yang merupakan pengejawantahan al haqq al makhluq bihi, telah tersingkap secara paripurna.
(Suluk abdul jalil, Perjalanan Ruhani Syeikh Siti Jenar, LKis Jogjakarta, h,324-327)

Categories: Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.